Online 70 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Mattaradde Dan Mopare, Potret Ketahanan Pangan Orang Pedalaman Di Sulawesi Barat

Mattaradde Dan Mopare, Potret Ketahanan Pangan Orang Pedalaman Di Sulawesi Barat Cetak
oleh Muhammad Tom Andari   
Selasa, 01 Mei 2018 12:19 | Tampil : 428 kali.

Kalau ingin meresapi tradisi lokal orang Mandar di pedalaman, datanglah ke desa ini, desa terjauh di kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, kalau di Mamuju ada kecamatan Kalumpang dengan desa-desa terpencil yang sulit diakses dan terkenal dengan jejak Austronesia nya maka desa ini kurang lebih sama terpencilnya, terlihat jelas beberapa tahun yang lalu saat salah satu stasiun TV Swasta meliput langsung ke desa ini, dengan mengendarai ojek sepeda motor bayaran menyentuh hampir Rp 100.000 untuk sampai ke desa ini.

Puppuuring adalah desa yang paling sulit diakses di kecamatan Alu, walau masuk kedalam wilayah Kabupaten Polewali Mandar, jika dilihat dengan menggunakan peta, maka wilayahnya lebih dekat ke pesisir dari wilayah kabupaten Majene. Dari daerah Totolisi di kecamatan Sendana, Puppuuring lebih singkat dituju.

Dialek bahasa yang digunakan di daerah Puppuring dipengaruhi oleh bahasa Mandar di pedalaman, erat dengan bahasa-bahasa di pegunungan atau bahasa-bahasa Ulu Salu. Menurut Ahmad Sukri, bahasa di Pupuuring kedengarannya mirip dengan bahasa Aralle. Daerah desa ini memang terdapat di daerah terpencil di pegunungan, karena itu wajar jika ia dipengaruhi bahasa pegunungan.

Kegiatan Mopare tampaknya adalah kegiatan memanen padi, seperti yang tampak diposting oleh Arif Sattari, tenaga pengajar yang bertugas di desa Puppuuring dan sempat mendokumentasikan kegiatan lokal masyarakat Mandar ini dalam beberapa video singkat dan foto-foto,  sementara Mattaradde adalah kegiatan menyusun tumpukan padi yang belum dipisahkan dari batang utamanya menjadi layaknya gunungan. Satu hal yang menarik adalah nun jauh di pedalaman Alu, pangan disuplai dengan padi jenis dataran tinggi yang tidak membutuhkan pengairan terus menerus seperti padi di dataran rendah.

mattaradde polman sulbar

Kagiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

mattaradde puppuring polman

Kagiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

mattaradde

Kagiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

Dalam kegiatan Mopare, dibawah rangka kayu yang akan menjadi tumpukan padi yang disusun dilakukan ritual Mattunu Undung dengan bahan makanan yang diletakkan diatas nampan, dan nampan tersebut diletakkan diatas beberapa ikatan padi yang masih ada dalam batangnya, lalu seorang tampak melakukan pembakaran undung atau dupa dengan mengambil parang dan sabit lalu diketuk-ketukkan bagian belakangnya hingga bahan logamnya saling bersentuhan. Makanan yang disajikan diatas nampan tidak boleh diambil dan dimakan, jika ritual mattunu undung telah selesai dan padi akan digantung barulah kemudian makanan berupa penganan kecil ini bisa disentuh dan dimakan, ini yang menjadi target buruan anak-anak desa Puppuuring.

mattunun undung puppuring

Prosesi ritual mattunu undung saat kegiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

mattunu undung puppuring polman

Prosesi ritual mattunu undung saat kegiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

Setelah kegiatan Mattunu Undung dilakukan maka kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Mattaradde, saat padi yang masih dalam batangan disusun vertikal dan para penduduk desa bergotong royong menyusunnya, beberapa orang akan berada di atas rangka bangunan kayu, sementara yang lainnya akan melempar ikatan padi pada orang yang berada diatas rangka bangunan.

mattaradde puppuring polewali mandar

Prosesi menyusun padi saat kegiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

mataradde

Prosesi menyusun padi saat kegiatan mattaradde yang dilakukan di desa Puppuring, kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Arif Sattari)

Menurut Ishana Rachmawati Masang, dalam bahasa Pannei, kegiatan Mopare biasa disebut Mipare, alat yang digunakan adalah Rappakang, dan jenis padi yang dipanen adalah "pare uma" yang rasa nasinya sangat wangi berbeda dengan nasi yang biasa ditanam di sawah dataran rendah, pare uma bukanlah beras merah, jenis padi ini biasa juga dikenal orang dengan nama "padi kebun" yang artinya padi yang ditanam di kebun, bukan di persawahan. Tak perlu saluran irigasi untuk padi jenis pare uma, sebab kebanyakan air akan menyebabkan gagal panen, asalkan tanah lembab saja maka padi sudah bisa tumbuh dengan baik. Ditambahkan oleh Uwais Al Qarni, beras gunung lebih baik dari beras organik. Lebih kaya kandungan mineral dari beras sawah karena sistem pengairannya berasal dari air tanah di punggung bukit/gunung. Tidak banyak tempat di Indonesia yang membudidayakan padi gunung seperti ini. Seperti halnya di pulau Jawa yang sudah tak ada. Di Sumatera, masih ada beberapa. Di Papua, masih cukup banyak. Sementara di Sulawesi, Uwais hanya pernah menemuinya di sekitar wilayah Toli-Toli, Sulawesi Tengah, dan di Toraja, Sulawesi Selatan.

Beras yang dihasilkan di desa di pegunungan lebih banyak untuk dikonsumsi sendiri oleh warga desa, tidak untuk dijual. Menurut penuturan Irwan, yang sering mengadakan perjalanan ke daerah pedalaman Polman, masih ada daerah-daerah lain di kabupaten Polewali Mandar yang membudidayakan padi pegunungan seperti di Puppuuring, misalnya saja di daerah-daerah pedalaman seperti kecamatan Bulo, Tubbi Taramanu (Tutar), dan Matangnga. Sementara di kabupaten Mamasa juga masih ada, namun mulai berkurang. Padi pegunungan punya masa produksi yang lebih lama dibandingkan dengan padi persawahan, kalau padi di persawahan bisa dipanen sebanyak dua kali dalam setahun maka padi pegunungan punya masa produksi yang lama, butuh waktu panen sekali dalam setahun.

Menurut Muhammad Ridwan Alimuddin, desa Puppuuring hampir sama dengan kampung-kampung lain di Mandar. Bedanya hanya kemudahaan akses ke sana. Motor bisa mengakses, namun juga ada ojek. Rumah-rumah penduduk terbuat dari rumah panggung,  juga ada yang dari rumah berdinding batu. Kabar terbaru adalah sinyal telepon seluluer juga sudah masuk ke desa ini hanya saja saat Ridwan berkunjung kesana sinyal belum menyentuh tingkat 4G. Pekerjaan orang-orang di desa ini banyak bertani dan berkebun. Akses ke kota dari segi jarak dekat via Totolisi, tetapi akses jalan berbahaya. Sehingga orang-orang di Puppuuring lebih banyak memilih via desa Alu-kelurahan Petoosang.

Puppuuring memiliki potensi kealamian untuk soal destinasi wisata, lokasinya yang jauh dari hingar bingar perkotaan dan akses jalan yang agak sulit membuat ia menjadi tempat yang nyaman untuk jadi kunjungan wisata petualangan. Ada satu hal menarik lagi dari desa ini , ada hamparan batu yang tersusun rapi di jalur sungai (deskripsinya lebih cocok untuk istilah batu meappar) yang jadi misteri, apakah disusun oleh manusia, atau merupakan bentukaan alami alam, namun jika dibentuk oleh alam maka hasilnya tampak sangat sempurna.

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018