Online 11 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Massawaq Rure, Kearifan Lokal Yang Masih Terjaga Di Tubo

Massawaq Rure, Kearifan Lokal Yang Masih Terjaga Di Tubo Cetak
oleh Hasbi Djaya   
Sabtu, 14 Juli 2018 11:52 | Tampil : 155 kali.

Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002).

Istilah massawaq hanya muncul ketika hasil laut jenis ikan teri (Stolephorus Sp) sedang melimpah, kebiasaan ini berlangsung turun temurun dalam pranata sosial masyarakat Tubo di kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Sistem massawaq hanya terjadi ketika hasil tangkapan nelayan ikan teri sedang berlimpah. Dalam prosesnya, masyarakat/keluarga nelayan maupun bukan nelayan yang tidak menghasilkan ikan teri akan dibagikan beberapa ember biasanya 1-3 ember perorang untuk dijemur. Setelah kering, barulah akan dibagi hasilnya dengan nelayan dimana sumber massawaq tersebut. Teri kering dibagi tiga, 2 bagian untuk nelayan dan 1 bagian untuk si passawaq.

massawaq rure di tubo majene

Ikan teri (rure) yang sedang dikeringkan di wilayah kecamatan Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)

Entah bagaimana kronologis penggunaan kata ini muncul mungkin diambil dari bahasa Mandar "sawaq" yang berarti penuh sehingga muncul kata "massawaq" yang secara harfiah artinya "memenuhi". Memenuhi kebutuhan sesama, memenuhi yang berkekurangan, saling memberi dan saling melengkapi.

massawaq rure di tubo sulbar

Ikan teri (rure) yang sedang dikeringkan di wilayah kecamatan Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)

Inilah inti dari nilai passemandaran (rasa mandar) yang merupakan puncak nilai yang terkandung di dalam tallu ponna attongangan (tiga dasar kebajikan), yaitu :

Mesa, pongeqpallangga ; aspek ketuhanan.

Daqdua, tassisara ; aspek hukum dan demokrasi.

Tallu, tammalaesang ; aspek ekonomi, aspek keadilan dan aspek persatuan.

Ketiga dasar kebajikan tersebut dijabarkan dalam annang pappeyapu di litaq Mandar (enam pegangan utama di tanah Mandar), yaitu :

1. Buttu tandiraqbai (tegaknya hukum secara utuh)

2. Manuq tandipessisiq (demokrasi dalam segala lini kehidupan)

3. Beaq tandicupaq (ekonomi kerakyatan yang merata)

4. Karraqarrang tandidappai (keadilan tanpa takaran)

5. Wai tandipolong (persatuan yang berkesinambungan)

6. Buttu tanditemaq diammemanganna tokuana tokua (keutuhan keyakinan akan kekuasaan zat yang Maha Tinggi)

Inilah nilai-nilai malaqbiq masyarakat Mandar, nilai-nilai budaya yang berawal dari perilaku yang bersifat bijaksana yang ada di dalam suatu masyarakat yang sudah diajarkan secara turun temurun oleh orang tua kita kepada kita selaku anak-anaknya. Sehingga nilai kearifan lokal Mandar berbeda dengan daerah lain.

Malaqbiq dalam bahasa Mandar dapat diartikan sebagai nilai-nilai luhur, mulia, rendah hati dan keutamaan dalam sifat-sifat berharkat dan bermartabat. Makna ini dapat ditemukan dalam budaya Mandar yang diungkapkan di berbagai lontar yaitu : ”pelindo lindo maririo nanacanringngoqo paqbanua ” (anda diharuskan memiliki sifat yang berharkat dan bermartabat agar dicintai oleh rakyat).

"Kela sau di bering bonde akaq namassawaq boi tau rure "


Penulis :

Hasbi DjayaHasbi Djaya , Menggemari tema kebudayaan dan kepariwisataan saat ini bemukim di kecamatan Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat

Kontak Saya 

facebook :  https://www.facebook.com/abiy.sahibutarahoang

 

 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2018