Online 12 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Catatan Massal Trip Susur Muara Sungai Maloso Mapilli ; Desa Buku Memang Potensial Dan Mempesona

Catatan Massal Trip Susur Muara Sungai Maloso Mapilli ; Desa Buku Memang Potensial Dan Mempesona Cetak
oleh Admin   
Senin, 04 Maret 2019 16:14 | Tampil : 699 kali.

Kompadansa Mandar (Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar) 03/03/2019 kembali melakukan trip menelusuri muara sungai Maloso Mapilli. Trip ekowisata ini diinisiasi oleh Ayub Kai, pemuda KDM asal desa Buku, kec. Mapilli, Kab. Polewali Mandar, utusan Sulawesi Barat di Kapal Pemuda Nusantara Kementerian Pemuda Dan Olahraga.

Field Trip Maloso Mapilli, diberi tagline "Lolong Di Ulu Salu, Meaqrapeq Di Baqbana Binanga" menelusuri jejak sejarah Sungai Maloso Mapilli, keindahan habitat satwa di muara sungai, habitat buaya yang membuat desa Buku terkenal, serta menelusuri jejak Tosalamaq Buku.

trip sungai maloso mapilli

Trip susur muara sungai Maloso Kompadansa Mandar, di desa Buku, Kec. Mapilli, Kab. Polewali Mandar (Foto : Salim Makkaroda)

Beragam komentar dan kesan positif di sampaikan para peserta Trip lingkungan, sejarah dan budaya yang dihelat KDM ini,

Mulai dari Siti Afrianti Tanriabeng " Trip Maloso, perdana bagi saya mengarungi sungai hingga ke muara tanjung Buku,  sepengetahuan saya ini adalah lokasi paling mistik dan ekstrim tentang kisah buaya putih dan sosok gaib pada cerita masa kecil dahulu,  tapi setelah melewatinya,  ada kepuasan tersendiri atas jawaban rasa penasaran cerita seram dan mistiknya sendiri.  Mistiknya tak terasa, sebaliknya ada suguhan pemandangan langit nan indah ditengah aliran sungai dihimpit kebun dan sawah warga diantara dua kecamatan berbeda di Kab. Polewali Mandar, belum lagi kepakan sayap burung-burung yang menyambut dan menghiasi pemandangan langit biru. benar-benar memberi warna pada perjalanan kami".

Sang pimpinan Trip  Sungai Maloso Mapilli, Ayub Kai memberi kesan positif pula :
" Sehari setelah melakukan trip sungai maloso Mapilli rasa pegal di tubuh mulai terasa, meski demikian ada banyak cerita baru yang mungkin bagi sebagian teman-teman yang tidak sempat ikut akan merasa iri dan bisa saja gigit jari saat melihat foto dari hasil trip kemarin. Menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini berarti saya harus memberikan pelayanan yang terbaik ibarat tim kesebelasan sepak bola saya adalah ujung tombak yang harus memberikan pertunjukan memuaskan bagi teman-teman trippers.  Bukan hal biasa bagi seorang laki-laki Mandar seperti saya untuk pergi berbelanja bahan dapur di pagi buta namun ini harus saya lakukan untuk teman-teman trippers dari KDM, dengan sajian menu lokal dari hasil olahan tangan perempuan Mandar di lingkungan saya. Trip Sungai Maloso Mapilli bukan sesuatu yang baru dilakukan bagi teman trippers lokal tapi mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru mengenai sejarah, budaya dan kearifan lokal dalam trip ini itulah sesuatu yang baru. Seolah ada semangat yang terus bergelora saat senyum perempuan Mandar menemani dan menguatkan langkah kami laki-laki Mandar dalam sebuah kegiatan field trip"

Askar Al Qadri, sebagai peserta Trip yang juga pernah melakoni trip sejenis saat Trip menelusuri muara Tanjung Mampie, meninggalkan komentar :

"Hakikat perjalanan adalah proses pembelajaran." Begitulah kira-kira pepatah orang di era modern. Rasa terima kasih karena ekspektasi terwujud saat kolaborasi perihal jalan-jalan disatu-padukan dengan lezatnya bincang-bincang. Trip Sungai Maloso memberikan bukti bahwa alam ini memang tujuannya untuk dikelola. Tentu dengan tidak mengesampingkan sejarah soal asal mula adanya sungai Maloso Mapilli. Tidak hanya panjang, sungai ini pun cukup lebar; dan dugaan saya kedalamannya lumayan. Takjub dengan beberapa keelokan di tepiannya. Tumbuh suburnya pepohonan menjadi habibat khusus bagi beberapa hewan seperti Bangau, burung-burung muara, dan mungkin saja Buaya. Menurut saya, tidak berlebih jika Sungai Maloso ini dapat dijadikan jualan besar untuk sektor pariwisata khas kecamatan Mapilli, potensinya ada. Keramahtamahan masyarakat serta rute asrinya menjadi jualan dan modal utama. Soal Kulinernya, Oh ia, juga tidak dapat berbohong soal nikmatnya sajian Bau Peapi. Entah kenapa saya pribadi amat jatuh hati dengan makanan tradisional yang satu ini. Tidak hanya menikmati alam, ada juga kelelahan yang terbayar lunas oleh pengetahuan; yang terbawa pulang. Suardi Kaco, sebagai local Expert, pengamatn sejarah dan budaya Buku amat cemerlang memberikan penjelasan. Apalagi menjurus pada soal sejarah dan kebudayaan orang-orang di desa Buku. Disela-sela perjalanan; bahkan kebeberapa tempat peristirahatan, tidak lelahnya kawan-kawan saling meminta keterangan; meminta penjelasan. Bagi saya, sebuah perjalanan bukan hanya tentang menangkap gambar, tetapi menyerap kabar, bukan pula tentang narsistik tetapi bersifat mendidik. Berusaha memperoleh kepandaian adalah jiwa dari segenap rangkaian perjalanan. "

Fotografer Salim Makkaroda, yang banyak mendokumentasi kebudayaan dan even Pariwisata di kab. Polman menambahkan kesan :

"Saya sudah lama ingin melewati Sungai Maloso Mapilli, dan baru kali ini tercapai, sebagai manusia yang berprofesi sebagai fotografer atau hoby mengambil foto, tentu tidak ingin melewatkan setiap momen yang ada. Sepanjang Sungai Maloso ini, banyak yang bisa kita nikmati, mulai dari cerita sejarah, budaya / kulturnya, bahkan tentang keindahan alam yang dimilikinya. Perjalanan trip Sungai Maloso Mapilli bagi saya pribadi, masih ada hal yang belum lengkap, saya belumlah puas dengan apa yang sempat saya abadikan, salah satunya, sunset yang setiap pengamatan saya ada beberapa titik yang indah untuk diabadikan. Singkat kesan saya, Sungai Maloso punya potensi untuk dikembangkan, baik dari segi pariwisata, sampai tentang sejarah yang tersembunyi darinya.

Putra Ardiansyah, pelaku usaha jasa wisata di pantai Babatoa Lapeo, menambahkan pula :

"Sangat luar biasa Trip Sungai Maloso, sudah lama saya penasaran dengan Maloso, dan satu hal yang membuat saya tertarik yaitu cerita tentang buayanya, buaya yang hingga saat ini belum pernah saya lihat langsung secara nyata dan gamblang di depan mata, harapan saya di trip berikutnya saya bisa melihat buaya, ini jalur trip yang sangat keren, karena ini kali pertama saya melewati daerah sarang buaya di delta tempat mereka berjemur, itu pengalaman yang menarik dan saya rasa ini sangat baik untuk dijadikan paket wisata khusus bagi pecinta wisata yang memacu adrenalin"

Nilawati, penggila trip yang suka menari ini, meninggalkan komentar :

"Alhamdulillah. Terima kasih atas cinta tak terbatas. Sengaja saya beri kecupan manis setelah mengucap syukur, karna saya tahu kata-kata tak lagi indah ketika mata telah melihat, telinga telah mendengar, ikut menikmati keindahan alam semesta. Sungai Maloso sedari 20 tahun yang lalu sejak pertama kali menginjak perkotaan hal pertama yang selalu saya cari sepanjang jalan adalah jembatan Mapilli, dibawahnya mengalir Maloso. Selain jembatannya yang panjang juga airnya sangat menggoda. Iya menggoda, karna saya pencinta air makanya sudah sangat lama saya memiliki mimpi untuk bisa lebih dekat dengan sungai Maloso. Tepat tgl 03-03-2019 impian itu serasa menjelma menjadi sosok kekasih yang begitu nyata bahkan tak lagi mengingat rindu yang tak bermuara ini. Saya bukan terbius, bukan pula gagal fokus karna terik matahari yang menggigit di kulit hitam ini, tapi ini tentang rindu, rindu menghempaskan tubuh pada alam, bercumbu pada kemesraan tanpa nafsu dan ego dan hanya ada cinta tak terungkap lewat kata. Awal tahun 2019 kemarin saya berpikir, mungkin tak ada lagi air keruh yang mampu membuat ku mengakrabi keindahan, tak ada lagi panas matahari yang membakar kulit hingga makin hitam legam, tak ada lagi hujan yang memelukku dalam kesunyian. 2 bulan terakhir kupilih jalani hidup tanpa sebuah mimpi, karna jarum suntik melumpuhkan ingatan tentang rindu. Tapi tidak kali ini, dengan mengucap Bismillah dan yakin Tuhan awal dan juga akhir, aku kembali melangkah kaki dalam perjalanan yang bagi saya akan lebih berat dari sebelumnya. Tapi percayalah kekuatan leluhur tak akan membiarkan kita melangkah tanpa sebuah kekuatan dan restu. Selain memuaskan hasrat akan kerinduan pada perjalanan Maloso ini, saya juga menemukan petikan pesan sang tetua tentang perjalanan yang sebenarnya. Saya menemukan ada tali pengikat yang simpulnya terlalu erat untuk diretas antara wilayah Buku, Mapilli, Tomadio, Luyo dan Passokkorang. Setelah melepas kerinduan akan air keruh, terik panas yang menguliti, langkah kaki yang menuntun pada masa lalu, mata yang berbinar karna keelokan muara dan hamparan rumput dengan warna eksotis. Perjalanan ini mengajak untuk kembali membuka mata tanpa bola mata melainkan kalbu, disana jelas pula ada cinta. Walau kehujanan sempat mendera setelah trip ini tetap saya nikmati, meski sedikit was was akan jarum suntik, tapi karna perjalanan ini penuh cinta tanpa batas makanya semua baik-baik saja."

Muhammad Abrar, KDMers yang sudah sering melakukan trip bersama KDM menuturkan :

"Hari ini adalah hari sejak 1 tahun terakhir tidak melakukan trip bersama "Kompadansa Mandar" tujuan kami kali ini adalah menghanyutkan diri di sungai Maloso "menggunakan rakit tentunya". Sebelum melakukan trip sungai maloso, bayangan saya di perjalanan ini akan melihat predator (buaya) yang lagi asyik berjemur di muara sungai seperti yang pernah saya saksikan di video-video channel wild itu. "tapi lupakan espektasi saya yang sedikit gila ini" . Ternyata bayangan saya ini keliru sama sekali, tak ada predator seperti buaya yang saya lihat, justru saya jatuh hati pada lekukan indah sungai Maloso saat mencapai tepian laut, itupun betul-betul berbeda dari apa yang sering saya saksikan dalam aplikasi Carry Map Observer di smartphone, itu karena volume air dari hulu berubah-ubah sehingga dapat mempengaruhi derasnya air yang bermuara kelaut. Selain itu ada hal yang baru saya ketahui tentang Maloso ini, ia adalah sungai besar yang terbilang berusia sangat muda diantara sungai-sungai di Sulawesi Barat, Polewali Mandar pada umumnya. Belum lagi ketika Suardi Kaco, local expert pemerhati sejarah dan budaya membagikan ceritanya tentang penutupan sungai lama dan pembentukan aliran sungai baru, serta penemuan benda-benda kuno di sekitar tepian bekas sungai, menurut saya ini adalah titik klimaks dari trip kali ini. Perjalanan betul-betul melelahkan, matahari begitu terik siang itu tapi seringkali angin dingin kadang datang sebagai penyemangat, langkah kaki kadang lelah tapi canda tawa datang menggembira, seolah ada rona senyum yang terlihat pada kedua alas kaki yang saya kenakan.

Muhammad Adnan Syaifullah, pemuda penggiat budaya di Polewali Mandar meninggalkan kesan :

"Beri secuil ruang untuk sungai, sungai bukan hanya untuk manusia" Hal yang pertama kali terlintas dalam imajinasi ketika menyimak wejangan dari sang pengemudi perahu saat trip sungai Maloso bersama KDM adalah sungai merupakan kehidupan untuk semuanya, riak airnya menyuburkan tanah dan menjadi habitat mahluk air lainnya. Tapi seketika heran saat mendengar penjelasan sejarah tentang Maloso (sungai) yang dahulunya mengalir dari arah Campalagian di tutup akibat keserakahan tuan tanah yang lebih mementingkan harkat di bandingkan kesehatan lingkungan. Bukan hanya tentang sungai tapi tentang sejarah desa Buku, kec. Mapilli yang banyak menyimpan barang berharga peninggalan manusia terdahulu yang dapat menjadi bukti nyata bahwa desa Buku dahulunya adalah tempat para penguasa-penguasa dimasanya. Ucapan terima kasih saya kepada Kakanda Suardi kaco selaku local expert pemerhati sejarah dan budaya yang begitu terbuka menjelaskan kepada kami tentang apa dan bagaimana sebenarnya desa Buku pada zaman dahulu.

 


Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2019