Online 21 Pengunjung

Selamat datang di Portal Web Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar, biasa disingkat KPBWM atau Kompa Dansa Mandar atau KDM.         Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Komunitas Kegiatan Ekspedisi Maloso; Catatan Singkat Dan Rasa Penasaran Pada Jejak Arkeologis Peninggalan Dinasti Tang

Ekspedisi Maloso; Catatan Singkat Dan Rasa Penasaran Pada Jejak Arkeologis Peninggalan Dinasti Tang Cetak
oleh Muhammad Abrar   
Selasa, 05 Maret 2019 09:14 | Tampil : 467 kali.

03 Maret 2019, pagi hari yang sedikit cerah pasca gerimis semalam, perjalanan ini saya namai ekspedisi Maloso, bertolak dari kampung kebanggaan saya Wonomulyo sekitar 15 km dari rumah seorang sahabat yang akan memandu perjalanan ekspedisi kami pagi ini, hendak melewati rute Mapilli - Katumbangan untuk memastikan kondisi sungai yang akan dilalui ekpedisi kali ini.

Kami memulai berjalan kaki sekitar pukul 10:47 dari kediaman mas Ayub menuju tempat perahu dan perahu mirip rakit yang akan kami gunakan untuk susur sungai Maloso, berjalan kaki kami habiskan sekitar 30 menit lamanya melewati pepohonan bambu, perkebunan kakao dan kelapa, hingga sampai di ujung jalan, kami bertemu sungai dengan air berwarna cokelat, ada rasa ngeri melihat suasana sungai pagi itu yang arusnya deras dan keruh pasca hujan semalam.

trip kdm sungai maloso mapilli

Perahu dengan kapasitas 6-7 orang yang kami gunakan meluncur di atas sungai Maloso Mapilli menuju muara Tanjung Buku (Foto : Salim Makkaroda)

Pagi itu kami ber-17 dan dibagi menjadi dua kelompok dikarenakan perahu rakit yang akan kami gunakan hanya berkapasitas 10 sampai 12 orang, akhirnya kami bertolak dari tempat yang biasanya digunakan warga untuk menyebrangkan hasil tani dan kebun dari desa seberang. Desa seberang sudah masuk wilayah kec. Wonomulyo, sementara di sisi kami adalah wilayah kec. Mapilli, sungai Maloso membelah kedua wilayah ini menjadi dua daerah administrasi pemerintahan yang berbeda.

Akhirnya saya dan beberapa teman yang lain sepakat untuk memilih menaiki perahu sementara yang lain menaiki perahu mirip rakit, beruntungnya pagi itu karna saya seperahu dengan Suardi Kaco yang tak lain adalah local expert, periset sejarah dan kebudayaan desa Buku, ia banyak bercerita tentang beberapa anak sungai yang bermuara ke Maloso, ada banyak yang ia sebutkan.

Dalam perjalanan menuju hilir beberapa tanaman perkebunan yang didominasi pohon kelapa, kakao, pisang, dan tebu. Ada pemandangan yang cukup mengejutkan saat saya melihat sebuah mesin penghisap pasir disela-sela kebun kakao. Ternyata masih ada tambang pasir di sungai ini. Diujung perjalanan berbaris petak-petak sawah yang diakhiri  tambak ikan bandeng disekitar muara tanjung buku, bahkan sesekali melihat tambak yang tengahnya ditanami padi.

Dalam perjalanan susur sungai Maloso Mapilli, ada beberapa anak sungai  yang saya tangkap dengan jelas, seperti anak sungai dari Rumpa dan yang terakhir adalah anak sungai dari Garassiq "Geresik" menurut penuturan dari Suardi Kaco. Sesampai di muara kami memulai berjalan kaki, hal pertama yang kami lakukan adalah menyambangi  makam Tosalamaq, beristirahat sejenak lalu memulai diskusi ringan yang ditutup dengan sesi pertanyaan.

trip kdm muara sungai maloso mapilli

Perahu dengan kapasitas 6-7 orang yang kami gunakan saat berada di muara sungai Maloso Mapilli  (Foto : Salim Makkaroda)

Ketertarikan saya dengan trip kali ini mencapai klimaksnya ketika Suardi Kaco menceritakan sejarah, benda kuno yang memiliki nilai arkeologis peninggalan dinasti Tang dari cina, orang-orang biasanya menyebutnya dengan "Barang Tang", itu artinya peninggalan piring  piring porselen itu berasal dari masa dinasti Tang berkuasa,  lalu ditutup dengan kisah asal muasal penamaan "Buku" itu sendiri, dalam hal ini saya selalu ingin bertanya tentang benda-benda kuno yang ditemukan oleh warga sekitar serta tata cara menemukan dan menentukan titik-titik penggalian, tapi moderator hanya mempersilahkan 3 pertanyaan saja sebelum memulai kembali perjalanan. Kata ayub, manager trip "bisa bertanya sebanyak-banyaknya saat sudah tiba dititik pemberangkatan".

Kami kembali melanjutkan perjalanan yang begitu melelahkan, sembari menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan saya sampaikan nanti. Berjalan tak kurang dari 2 km, cukup melelahkan belum lagi terik matahari sesekali menjilat kulit dari sela-sela daun-daun yang rindang. Sesekali beristirahat melepaskan tawa untuk memberi aura positif bahwa kami masih mampu berjalan.

Sesampai di titik pemberangkatan awal kami tadi kami kembali kami disuguhkan beberapa kenikmatan kuliner lokal desa Buku yang akan segera menjawab keresahan si perut. Iya, disana ada menu bau peapi, bau tunu, dan sayur cocco. Perjalanan kami ditutup dengan loka sattai kuliner kampung yang super lezat diselingi pertanyaan-pertanyan hasil perjalanan. Ini trip yang menakjubkan, belajar langsung di lapangan dan mendapatkan informasi live dari pakar sejarah dan budaya desa Buku, semuanya tertanam dalam dalam memori, kembali memperkaya isi kepala, memadatkan ilmu pengetahuan tentang alam, manusia, dan budaya desa Buku.


Penulis :

muhammad abrarMuhamad Abrar , lahir dan dibesarkan di kecamatan Wonomulyo  kabupaten Polewali Mandar, saat ini tinggal di tempat yang sama. Memiliki hobi menggambar sketsa, mencintai dunia travelling dan wisata. 

Kontak Saya

facebook :  https://www.facebook.com/abrar.stillown

 


Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompadansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Blog || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2019